This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label suku. Show all posts
Showing posts with label suku. Show all posts

Sunday, 8 October 2017

Tradisi Unik Pilih dan Coba Pria Untuk Dijadikan Jodoh Suku Kreung

Mencari pasangan hidup merupakan hal yang susah-susah gampang, kadang kita membutuhkan pendekatan untuk mengetahui karakter pasangan kita. Namun ada yang unik dari cara mencari pasangan dari suku Kreung.

Tradisi Unik Pilih dan Coba Pria Untuk Dijadikan Jodoh Suku Kreung

Suku yang berada di Kamboja ini memiliki cara unik sendiri untuk mendapatkan pasangan hidup. Anehnya para wanita disana memiliki tradisi mencoba pria. Maksud mencoba pria disini adalah memilih pria yang akan jadi pasangannya dengan cara tidur dengan laki-laku tersebut. Dan itu bukan hanya dilakukan oleh satu dua pria saja, tetapi lebih dari satu, sampai si gadis menemukan pria pilihannya. Penasaran dengan tradisi tersebut? Dibawah ini adalah ulasannya.

Gadis 15 Tahun atau yang sudah M

Tradisi ini dimulai ketika seorang anak gadis berumur 15 tahun, atau yang sudah mengalami menstruasi. Setelah orang tua gadis mengetahui hal tersebut, maka dibangunkanlah sebuah pondok sederhana yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Di pondok inilah tempat proses pemilihan jodoh.

Pondok tersebut terlihat sederhana seperti pondok bamboo yang berada di pematang sawah. Di pondok tersebut si gadis akan memilih pemuda yang datang untuk dijadikan suaminya. Mereka akan menghabiskan malam bersama. Ritual ini merupakan ritual yang sering dilakukan sehingga tidak ada rasa tabu dan semacamnya.

Para Pemuda Bergantian Mendekati si Gadis

Pondok yang didirikan tersebut akan menjadi tempat tinggal sementara si gadis sampai ia berhasil menemukan jodohnya. Di dalam pondok ini, para pemuda akan bergantian satu per satu untuk mengenal lebih dalam si gadis dan tentu saja boleh untuk menginap.

Mekanisme pemilihan tidak begitu jelas, namun dalam pemilihan ini hanya boleh satu orang dalam sehari semalam. Dan biasanya tradisi ini memakan waktu yang cukup lama dan menghabiskan banyak kandidat.

Tidak Selalu Ada Percintaan

Dalam ritual ini pasti ada namanya percintaan bahkan bisa berulang kepada pria yang berbeda. Tapi, tidak semua pria yang masuk ke dalam pondok diajak bercinta oleh si gadis. Ini semua dari kemauan si Gadis jika ia bilang tidak mau, maka si pemuda takkan berani menyentuhnya. Dan jika berani nekat maka hukuman adat yang sangat berat akan menantinya. Dalam banyak kasus, biasanya para pemuda hanya akan berbincang-bincang saja dengan si gadis di pondok.

Prosesi Ritual di Mata Pelaku dan Orangtua

Di mata masyarakat suku Kreung ini merupakan cara terbaik untuk mencari pasangan. Menurut para orangtua, cara ini sangat adil bagi si gadis karena ia bisa memilih sendiri pria yang disukainya sehingga pernikahan bakal awet. Sedangkan di mata para gadis, tradisi ini juga sangat memuaskan mereka karena mereka diberi keleluasaan untuk mencari pasangan.

Sumber referensi:

http://www.boombastis.com/ritual-suku-kreung/80167

8 Tradisi Suku Dunia Menuju Kedewasaan Yang Sangat Ekstrim

Memasuki masa remaja ciri-ciri pada anak adalah dengan mengalami menstruasi, mimpi basah dan beberapa perubahan fisik. Atau biasa juga disebut dengan masa puber. Ada hal unik yang dilakukan oleh beberapa suku di Dunia menyambut masa remaja. Beberapa diantaranya ada yang merayakan dengan cara berpesta, tetapi ada juga yang merayakannya dengan cara yang ekstrim.

Seperti yang terjadi pada beberapa suku di Dunia ini, mereka menyambut masa remaja dengan cara yang tidak biasa. Bahkan cara ini dapat dikatakan cara yang ekstrim dan dapat membuat anda menjadi ngilu mendengarnya. Berikut dibawah ini adalah 8 ritual ekstrim menyambut keremajaan.

1. Suku Adat Satere-Mawe dengan Ritual Semut Peluru

 Suku Adat Satere-Mawe dengan Ritual Semut Peluru

Satere-Mawe merupakan salah satu suku yang tinggal jauh di dalam pelosok hutan Amazon dan termaksud bagian dari negeri Brazi. Suku ini memiliki ritual khusus untuk menandai masa peralihan anak laki-laki menjadi pria dewasa. Cara yang dilakukannyapun sangat ekstrim, saya yakin Anda pasti tidak ingin mengikuti ritual seperti ini. Mereka menyiapkan sebuah selongsong daun berisi semut peluru dikenakan pada bagian alat reproduksi sang anak selama 10 menit. Perlu diketahui bahwa semut peluru adalah spesies semut yang memiliki gigitan paling menyakitkan di dunia. Jika mereka dapat melewati ritual ini dengan menahan rasa sakit akibat sengatan semut peluru, tandanya ia telah cukup dewasa.

2. Suku Xhosa - Sunat

Suku Xhosa - Sunat

Umat islam mewajibkan sunat bagi para lelaki, begitu juga tradisi penanda kedewasaan di suku Xhosa, Afrika Selatan. Saat memasuki usia akil baliq, anak-anak suku Xhosa dicukur dan dibawa ke pegunungan. Mereka diisolasi sementara ahli bedah datang untuk menyunat mereka. Mereka baru boleh kembali ke rumah setelah sembuh total. Kalau di Indonesia anak kecil di sunat dengan di iming imingi hadiah heheh.

3. Suku Hamar - Lompat Sapi

Suku Hamar - Lompat Sapi

Suku Hamar, Ethiophia memiliki perbedaan untuk menyambut kedewasaan. Masyarakat dari suku Hamar di Ethiophia harus melakukan ritual lompat sapi sebelum diizinkan menikah. Mereka memulai ritual ini dengan mencambuk lelaki di depan keluarga dan teman-temannya. Selanjutnya si lelaki tersebut harus melompat di atas punggung empat sapi yang dikebiri. Setelah lolos melalui ritual ini, sang pria baru diizinkan menikah. Sunggu perjuangan yang sangat berat untuk menikahi gadis suku Hamar. Kalau masyarakat Bugis, perjuangannya cukup mengumpul uang panai yang begitu tinggi heheh.

4. Suku Fula - Tato Wajah

Suku Fula - Tato Wajah

Bagi masyarakat suku Fula justru tato di wajah dianggap sebagai tanda kedewasaan. Dan ini berlaku bagi Tato para gadis perempuan yang dianggap telah dewasa, Para gadis suku Fula di Afrika Barat harus memiliki tato di wajah mereka. Tato tersebut dibuat dengan menggunakan sepotong kayu yang tajam. Dibayangkan saja pasti sangat menyakitkan. Seorang gadis yang sudah memiliki tato ini dianggap dewasa dan telah diizinkan untuk menikah.

5. Suku Masai - Berburu Singa

Suku Masai - Berburu Singa

Berburu singa?? Apa ga kebalik tuh, singa yang buru manusia? Hehe di suku Masai Masai dari Tanzania dan Kenya punya cara unik untuk menandai kedewasaan seseorang. Mereka melakukan regenerasi prajurit mereka setiap 6-10 tahun. Bakal calon prajurit ini disunat dan dipindahkan ke kamp khusus untuk diisolasi. Setelah itu mereka akan berburu singa sebagai puncak dari upacara pengesahan ini.

Namun seiring berkurangnya populasi singa pemerintah setempat mengeluarkan larangan untuk membunuh singa karena alasan perlindungan terhadap satwa ini.

6. Asa Gigi Khas Suku Mentawai

Asa Gigi Khas Suku Mentawai

Yang suka ngilu giginya pasti tidak akan melakukan hal ini. Tapi jika anda merupakan bagian dari suku mentawai, anda harus melakukan ritual ini. Para gadis yang menginjak masa dewasa akan melakukan asa gigi karena dianggap memiliki nilai-nilai tradisional yang luhur tentang kecantikan. Mereka percaya bahwa jika jiwa seseorang tidak puas dengan pemampilan tubuhnya, orang tersebut akan mati. Oleh karena itu, wanita muda mempertajam gigi mereka agar tampil lebih indah dan cantik.

7. Suku Aborigin - Perjalan Seorang Diri

Suku Aborigin - Perjalan Seorang Diri

Yang dimaksud perjalanan seorang diri bukanlah para Jomblo ya, disini merupakan salah satu tradisi suku Aborigin untuk menjadi pria dewasa. Suku Aborigin, Australia, mengirim para pemuda ke padang gurun selama 6 bulan untuk menguji apakah mereka telah siap menjadi pria dewasa. Seperti bertualang, mereka harus bertahan hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Setelah berhasil bertahan hidup dan melewati rintangan pada saat melakukan ujian ini, mereka kembali ke rumah dan dinyatakan telah menjadi laki-laki sejati.

8. Suku Sungai Sepik - Skarifikasi

Suku Sungai Sepik - Skarifikasi

Tradisi skarifikasi merupakan cara yang ekstrim, kenapa? Karena mereka membuat tatto dengan menggunakan silet yang tajam. Pola tatto yang dibuat menggunakan silet akan membuat kulit si pria menjadi seperti kulit kasa buaya. Dan ini merupakan tanda bahwa mereka sudah dianggap telah dewasa.

Sumber:

http://www.vemale.com/ragam/ragam/58979-8-ritual-dan-tradisi-menyambut-masa-dewasa-berbagai-suku-bangsa-di-dunia-unik-banget-8.html

Saturday, 4 March 2017

Si Gajang Laleng Lipa – Tradisi Mengerikan Suku Bugis

Pada artikel sebelumnya saya telah membahas tentang Sejarah dan Adat Istiadat Suku bugis Asal Sulawesi Selatan. Dan diartikel ini saya akan membahas lagi tentang kebudayaan suku Bugis, yaitu Si Gajang Laleng Lipa (Saling Tikam dalam Sarung).

Si Gajang Laleng Lipa – Tradisi Mengerikan Suku Bugis

Kenapa bisa terjadi tradisi si gajang laleng lipa? Jadi begini ceritanya. Masyarakat Bugis sangat menjunjung tinggi rasa malu atau dalam bahasa setempat adalah Siri. Dalam adat disebut bugis terdapat konsep Ade’, Siri na Passe. Ade’ adalah adat istiadat yang mesti dijunjung oleh masyarakat bugis, sedangkan Siri (malu) na Passe (rasa iba) adalah sikap yang tertuang dalam ade’ tersebut.

Pentingnya Siri dalam masyarakat Bugis sangat mempengaruhi kehidupan bermasyarakat, sehingga ada pepatah bugis yang menyatakan bahwa hanya orang yang punya siri yang dianggap sebagai manusia. Naia tau de’ gaga sirina, de lainna olokolo’e. Siri’ e mitu tariaseng tau (Barang siapa yang tidak punya siri (rasa malu), maka dia bukanlah siapa-siapa, melainkan hanya seekor binatang. Bahkan siri ini sangat berarti bagi masyarakat Bugis seperti dalam pepatah berikut “Siri Paranreng Nyawa Palao”, yang artinya : “Apabila harga diri telah terkoyak, maka nyawa lah bayarannya”.

Dari penjelasan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa Masyarakat Bugis sangat menjunjung tinggi rasa malu, sehingga jika harga diri mereka di injak-injak maka mereka akan mempertaruhkan nyawanya. Sehingga jika ada pihak keluarga saling bertikai hingga tidak menemukan titik temu maka jalan yang diambil adalah jalan adat yakni ritual sigajang laleng lipa’ (saling tikam dalam sarung)

Sigajang laleng lipa adalah sebuah tradisi masyarakat Bugis untuk menyelesaikan sebuah masalah dan telah dilakukan pada masa kerajaan beberapa tahun yang lalu. Tradisi Sigajang Laleng Lipa dilakukan oleh dua orang yang berduel dalam satu sarung menggunakan badik/kawali (senjata tradisional masyarakat bugis). Tradisi ini dilakukan ketika ada pihak yang bertikai yang tidak bisa terselesaikan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat, walaupun nyawa jadi taruhannya. Karena ke 2 keluarga tersebut merasa benar, maka permasalahan ini harus diselesaikan dengan Sigajang Laleng Lipa. Namun jika melakukan sigajang kedua bela pihak yang bertikai tidak harus lagi ada rasa dendam yang terpendam dan menganggap perkara sudah selesai. Hasil pertarungan dari Sigajang Laleng Lipa kebanyakan berakhir imbang, sama-sama meninggal, atau keduanya sama-sama hidup.

Sigajang Laleng Lipa adalah ritual pertarungan yang cukup mematikan. Namun, kita dapat melihat makna-makna positif dari tradisi ini seperti adanya pemecahan masalah melalui musyawarah dan mufakat dan tidak menggunakan ego dalam banyak hal kalau tidak ingin ada korban jiwa.
Namun seiring perkembangan zaman, tradisi ini telah ditinggalkan oleh masyarakat bugis makassar dan kini tradisi Sigajang ini telah dilestarikan sebagai warisan budaya leluhur Sulawesi Selatan, yang biasanya dipentaskan diatas panggung. Adapun Nilai-nilai dari ritual Sigajang Laleng Lipa (duel satu sarung), yang diartikan sarung sebagai simbol persatuan dan kebersamaan masyarakat Bugis Makassar, berada dalam satu sarung berarti kita dalam satu habitat bersama. Jadi sarung yang mengikat kita bukanlah ikatan serupa rantai yang sifatnya menjerat, akan tetapi menjadi sebuah ikatan kebersamaan di antara manusia.

Itulah penjelasan singkat tentang sigajang laleng lipa. Semoga bermanfaat.


Diliput dari berbagai sumber

Wednesday, 7 December 2016

Sejarah dan Asal Usul Suku Lingon Bermata Biru Asal Halmahera

Manusia bermata Biru sering kita lihat di negara-negara Eropa, namun ternyata suku bermata biru juga terdapat di indonesia? Yang tepatnya di suku pedalaman Halmahera. Suku tersebut disebut juga dengan suku Lingon. Dari warna matanya yang biru suku ini berbeda dengan suku suku bangsa yang ada di Indonesia.

Sejarah dan Asal Usul Suku Lingon Bermata Biru Asal Halmahera

Lingon adalah sebuah suku pedalaman yang mendiami Halmahera, Provinsi Maluku Utara, Indonesia yang dikenal karena memiliki ciri fisik ras Kaukasoid yakni berkulit putih, berrambut pirang, dan bermata biru, berbeda dengan suku-suku bangsa di Indonesia lainnya yang umumnya memiliki ciri fisik berkulit coklat, bermata coklat kehitaman dan berambut hitam.

Lantaran memiliki ciri fisik ala orang bule, maka nggak heran juga kalau orang-orang Lingon itu sangat cantik dan ganteng. Menurut cerita masyarakat, orang-orang Lingon memang seperti itu. Sayangnya, masyarakat Lingon sendiri seperti tidak menyadari kelebihannya itu. Menurut cerita lagi, katanya gara-gara kecantikan luar biasa gadis-gadis Lingon, mereka pernah diculik suku lain untuk dijadikan istri. Ada kabar yang mengatakan mereka sudah punah, tapi ada yang bilang juga suku Lingon sengaja menjauh agar tidak diusik.

Asal muasal

Tidak ada ceritanya orang ras Mongoloid bisa menghasilkan keturunan Kaukasoid, kecuali ada silang kawin di antara keduanya. Dengan berbekal teori ini maka dapat disimpulkan bahwa suku Lingon bukanlah orang-orang asli sini. Hal ini diperkuat dengan bukti-bukti cerita dari masyarakat sekitar yang secara tersirat seakan membenarkan hal tersebut.

Cerita muasal Lingon diawali dari karamnya sebuah kapal asal Eropa di sekitar Halmahera. Kemudian karena harus bertahan hidup, orang-orang kapal ini pun akhirnya menepi dan lama-kelamaan memasuki hutan. Lantaran susahnya akses dan lain sebagainya, mereka pun tak punya pilihan selain menetap dan akhirnya membentuk koloni sendiri yang disebut Lingon. Alasan kenapa mereka jadi primitif mungkin karena sudah terlalu lama tinggal di hutan. Pelan-pelan orang Lingon melupakan asal usulnya dan kemudian menyesuaikan diri.

Ciri Fisik

Suku Lingon bukanlah suku yang berasal dari ras weddoid, melanesia, polinesia, ataupun mongoloid seperti kebanyakan penduduk di Halmahera. Mereka termasuk dalam ras kaukasoid, sehingga tampilan fisik mereka lebih menyerupai orang Eropa seperti tubuh yang tinggi, kulit putih, rambut pirang, dan warna mata biru atau hijau.

Sampai saat ini, populasi suku Lingon masih belum diketahui keberadaannya. Dikatakan bahwa dahulu suku ini sering mendapatkan ancaman dari suku yang hidup di pesisir pantai, salah satunya adalah suku Togutil.

Orang dari suku Togutil kerap berusaha menculik gadis-gadis suku Lingon yang terkenal cantik dengan mata biru mereka. Beberapa suku setempat menganggap Suku Lingon berbahaya, lantaran dikenal memiliki ilmu sihir sehingga mereka juga kadang kala disegani.

Sumber referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Lingon

http://solo.tribunnews.com/2016/06/03/misteri-suku-lingon-suku-di-pedalaman-hutan-halmahera-yang-punya-ras-wanita-cantik-bermata-biru?page=4

Friday, 2 December 2016

Sejarah dan Asal Usul Suku Rakhine Arakan Myanmar

Rakhine atau Arakan adalah salah satu kelompok etnis yang berada di Myanmar. Etnis ini adalah kelompok mayoritas di negara bagian Rakhine (sebelumnya negara bagian Arakan). Kemungkinan jumlah kelompok ini meliputi 5,53% dari jumlah penduduk Myanmar, namun hingga kini belum ada sensus yang akurat. Suku Rakhine juga tinggal di wilayah tenggara Bangladesh, terutama di Chittagong dan Barisal.


Sejarah dan Asal Usul Suku Rakhine Arakan Myanmar

Orang Rakhine memiliki banyak sebutan, sesuai di daerah mana mereka berada, yaitu: Arakenese, Magh, Maghi, Marma, Mash, Mogh, Morma, Mugg, Yakan dan Yakine.

Arti Kata Rakhine

Menurut Tawarikh Rakhine, Nama Rakhine ini berasal dari bahasa Pali dari kata "Rakhapura" berarti "tanah rakyat Raksasa (Raksasa/Rakha/Rakhine)", kata Rakhine berarti "seseorang yang memelihara ras sendiri."

Bahasa

Bahasa yang digunakan adalah bahasa Rakhine. Orang Rakhine bertutur dalam bahasa Arakan, yang merupakan bentuk kuno dari bahasa Burma. Pada umumnya saling dimengerti dengan standar Burma, namun tetap memiliki style Arakan suara / r /, yang menjadi suara / j / dalam bahasa Burma. Bahasa tertulis Arakan script, pada dasarnya sama dengan script standar Burma, script Rakhawunna utara Brahmi ditemukan dalam prasasti batu di era (Wethali) Vesali, sekarang tidak lagi digunakan.

Sistem kepercayaan

Kebanyakan orang Rakhine beragama Buddha Theravada. Mereka mengklaim sebagai salah satu dari kelompok pertama yang menjadi pengikut Buddha di Asia Tenggara. Budaya Rakhine mirip dengan budaya Burma, namun lebih banyak dipengaruhi oleh budaya India akibat isolasi geografisnya dari daratan utama Burma. Pengaruh India terasa dalam sastra, musik, dan makanan Rakhine.

Sejarah

Sekelompok keturunan Rakhine, tinggal di Jalur Bukit Chittagong Bangladesh sejak abad ke-16, dikenal sebagai orang Marma. Keturunan Rakhine menyebar sejauh utara negara Tripura di India, ketika Tripura diperintah oleh raja-raja Arakan. Di timur laut India, orang-orang Rakhine disebut sebagai orang Mog

Pada beberapa abad yang lalu di Bangladesh, orang Rakhine (Arakan) adalah bajak laut yang ditakuti di Teluk Benggala, mereka meneror masyarakat di sepanjang pantai laut dan jauh di saluran sungai yang sekarang Bangladesh. Saat itu mereka disebut maghs, atau bajak laut. Nama ini menjadi nama populer dari suku ini, mereka berasal dari wilayah Arakan di Burma.

Suku Rakhine terkait erat hubungan serumpun dengan suku Bamar, Marma dan Chakma.
Menurut kronik, kerajaan independen Rakhine pertama didirikan pada tahun 3325 SM oleh Raja Marayu. Nama kerajaan tersebut adalah Dhanyawadi, yang bermakna "diberkati oleh gandum yang melimpah." Buddhisme masuk pada masa hidupnya Gautama Buddha. Menurut kronik Rakhine, Buddha sendiri mengunjungi kota Dhanyawadi pada tahun 554 SM.

Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Etnis_Rakhine

http://protomalayans.blogspot.co.id/2012/05/suku-rakhine.html

Tuesday, 15 November 2016

Arti Kata dan Makna Gelar Daeng Makassar

Makassar adalah Ibu Kota Sulawesi Selatan yang biasa digelari dengan kota Daeng. Tapi tahukah anda makna dari Kata Daeng? Dan siapa saja yang dapat menggunakan gelar Daeng tersebut?. Hal ini akan kita bahas disini, so silahkan simak ulasannya dibawah ini:

Arti Kata Daeng

Sebenarnya ada dua arti kata “daeng”, yaitu pertama sebagai sebutan kepada orang yang lebih tua atau yang dituakan. Sifatnya sama dengan kata “mas” bagi orang Jawa atau ”akang” bagi orang Sunda. Panggilan ini awalnya hanya milik suku Makassar saja, karena “daeng” memang sebenarnya adalah bagian dari budaya suku Makassar. Daeng sebagai panggilan kepada orang yang lebih tua, dipergunakan merata kepada pria ataupun wanita.

Kata “daeng” yang kedua atau lebih spesifik adalah bagian dari paddaengang. Dalam tradisi suku Makassar, paddaengang merupakan bagian penting. Istilah lainnya adalah areng alusu’ atau nama halus. Seseorang yang bersuku Makassar, biasanya akan menerima penyematan nama halus atau paddaengang di belakang nama aslinya. Contohnya seperti nama asli Muhammad Irwan, tapi kemudian ditambahkan dengan paddaengang, yaitu Daeng Rewa. Jadilah nama lengkapnya Muhammad Irwan Daeng Rewa.

Menurut komentar A. Firdaus Mananring dalam artikel http://hellomakassar.com/mengenal-daeng-dalam-tradisi-bugis-makassar/ ia mengatakan bahwa Mungkin bisa di bedakan antara Paddaengang, dengan panggilan Daeng untuk penghormatan kepada seseorang yg lebih tua, Untuk Paddaengang Jelas ini adalah Gelar Tu Baji’ atau tu Ruayya arenna untuk orang-orang khususnya suku makassar, hanya mereka yg keturunan Daeng lah yg berhak menyematkan gelar tersebut kepada keturunannya kelak, sangat melanggar aturan adat jika misalnya saya, “Firdaus” yg hanya mempunyai 1 nama saja, kemudian memberi paddaengang kepada anak saya kelak, jelas nantinya akan di tertawakan karena melanggar adat kita, “nakana tu towayya riolo, Bassungki punna taenan nasiratang”

Paddaengang biasanya diambil dari nama para leluhur atau tetua dalam garis keluarga suku Makassar. Biasanya berupa doa atau harapan, namun ada juga yang berupa ciri fisik atau kelakuan. Penyematan paddaengang di belakang nama seseorang dulu dilakukan dengan upacara khusus. Namun belakangan seiring perjalanan zaman, paddaengang itu disematkan begitu saja tanpa ada upacara khusus.

Bagi orang Makassar, setelah resmi menyandang nama paddaengang, maka yang bersangkutan sudah masuk masa akhil baliq, maka wajib hukumnya bagi orang-orang di sekitarnya apalagi yang lebih muda dari yang bersangkutan untuk memanggil dengan nama paddaengang-nya. Memanggil orang tersebut bukan dengan paddaengang-nya akan dianggap tidak sopan, karena paddaengang adalah nama halus dari yang bersangkutan.

Makna Gelar Daeng

Gelar “DAENG” pada hakikatnya tidak didapatkan begitu saja melainkan mengandung makna yang beragam. maknanya antara lain:
  1. Penghambaan dari nama Allah, kurang lebih sama dengan nama Islam yang ditambahi dengan Abdul. Misalnya Daeng Patoto. Patoto dalam lontara artinya pencipta, sehingga Daeng Patoto adalah hamba dari yang maha pencipta. Daeng Tanicalla, artinya tak tercela. Yang tak tercela hanyalah Allah SWT. Daeng Manaba, yang artinya penyayang, hamba dari yang maha penyayang;
  2. Berasal dari kata benda Makassar “pakdoangang” dari akar kata “doa” dan harapan. Ada beberapa “pakadengang” yang dapat masuk dalam kategori ini, misalnya:, Daeng Bau, agar yang bersangkutan memberikan nama harum bagi keluarga dan masyarakatnya. Daeng Nisokna, yang diimpikan, yang dicita-citakan. Daeng Gemilang, agar tampil lebih gemilang. Daeng Nikeknang, agar selalu dikenang. Daeng Kanang agar ia cantik, Daeng Baji agar dia baik hati, Daeng Puji agar dia menyenangkan;
  3. Penegasan bahwa dia juga adalah golongan bangsawan: Daeng Memang, artinya dia memang “daeng”, Daeng Tonji, yang artinya, diapun “daeng”. Daeng Tommi,yang artinya sebelumnya dia bukan daeng tetapi sekarang diapun sudah “daeng”. Daeng Tadaeng artinya, “daeng” atau bukan, baginya sama saja;
  4. Panutan , yang diambil dari nama tokoh yang sukses karena kejujurannya atau keberaniannya atau kepintarannya, dan atau kekayaannya, tanpa terlalu memperhatikan makna dari “pakdaengang” itu.

Strata Sosial

Pada dasarnya dulu di Makassar terdiri atas 3 strata sosial yaitu:

1. Karaeng (Raja atau Bangsawan)
2. Daeng (Kalangan pengusaha, shah bandar)
3. Ata (Budak)

Pada stata tersebut dalam tradisi asli suku Makassar sebenarnya juga dikenal yang namanya kasta. Kasta tertinggi adalah Karaeng atau raja dan kasta paling bawah adalah Ata atau budak. Mereka yang berkasta Karaeng berhak mendapat paddaengang, sementara pada Ata tidak.

Gelar Sultan Hasanuddin

Arti Kata dan Makna Gelar Daeng Makassar

Sultan Hasanuddin sendiri punya nama paddaengang, yaitu Daeng Mattawang plus gelar kebangsawanan, sehingga nama aslinya menjadi I Mallombassi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin Karaeng Bontomangape Tu Menanga Ri Balla Pangkana. I Mallombassi adalah nama kecil, daeng Mattawang adalah nama paddaengang, Sultan Hasanuddin adalah nama Islamnya, Karaeng Bontomangape adalah gelar kebangsawanan dan Tu Menanga Ri Balla Pangkana adalah gelar anumerta yang berarti orang yang meninggal di rumah.

Sumber referensi:
http://www.kaskus.co.id/thread/5424bf71a2cb17e84c8b4571/info-rahasia-dibalik-makna-kata-daeng/

http://www.rappang.com/2010/02/arti-daeng-dalam-kebudayaan-bugis.html

Tuesday, 1 November 2016

11 Bangsa Paling Berpengaruh Pada Perkembangan Zaman

Perkembangan zaman di era modern, tidak terlepas dari pengaruh bangsa-bangsa yang ada di dunia. Perkembangan ini berkat giatnya manusia-manusia belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Dari perjalanan menuju era modern, terdapat 11 bangsa manusia yang memiliki peran penting dalam perkembangan ini. Berikut dibawah ini adalah 11 bangsa tersebut.

11 Bangsa Paling Berpengaruh Pada Perkembangan Zaman

11 Bangsa Paling Berpengaruh Pada Perkembangan Zaman


11. AMERIKA SERIKAT

Di urutan 11 terdapat bangsa Amerika, dan saat ini negara amerika merupakan negara adidaya. Bangsa Amerika merupakan keturunan dari Bangsa-Bangsa Eropa seperti Inggris, Irlandia, Belanda, Spanyol, dll. Pada awal terbentuknya peradaban Amerika Serikat di Amerika Utara, tak ada yang begitu spesial dari bangsa ini. Namun seiring berkembangnya sistem demokrasi dan kebebasan sosial, bermunculanlah orang-orang jenius, kreatif, dan inovatif yang mendorong kemajuan bangsa ini dari sisi ekonomi, teknologi, maupun hiburan. Bangsa inilah yang menemukan listrik, menciptakan telepon, televisi, komputer, internet, dan juga film-film terbaik di dunia. Sehingga saat ini peranan semua bangsa di dunia tak bisa lepas dari pengaruh Amerika, entah itu dalam bidang ekonomi, teknologi, maupun hiburan.

10. INGGRIS

Bangsa Inggris merupakan keturunan dari Suku Angles yang awalnya bermukim di semenanjung Anglen, wilayah teluk baltik. Bangsa berbentuk kerajaan dari abad ke 18 hingga saat ini. Kerajaan Inggris adalah salah satu kerajaan paling kuat yang pernah ada dalam sejarah manusia. Hal ini karena banyak bangsa di dunia yang pernah ditaklukkan oleh bangsa ini. Hal itulah yang membuat bahasa Inggris menjadi bahasa wajib internasional. Selain membawa pengaruh budaya, Inggris juga menyebarkan pengaruh politik dan ekonomi yang sama kuat bangsa Amerika Serikat. Pengaruh bangsa Inggris terhadap dunia adalah diciptakannya Mesin Uap yang mendorong terjadinya Revolusi Industri di seluruh dunia, mengubah sistem politik dan sistem ekonomi yang berlaku di dunia untuk selamanya.

9. ROMAWI

Bangsa Romawi yang bermukim di Kota Roma juga pernah menjadi kerajaan terkuat. Mereka merupakan nenek moyang dari Bangsa Italia. Kerajaan ini dibentuk pada tahun 750 SM dari kerajaan kecil yang kemudian menjadi salah satu kerajaan paling besar di dunia setelah mereka melakukan serangkaian invasi hampir ke seluruh Eropa. Lewat invasinya, Bangsa Romawi telah mempersatukan Eropa dan membangun fondasi bagi Uni Eropa di masa depan. Pengaruh Bangsa Romawi yang paling besar adalah pada bidang tata kota, arsitektur, sanitasi, dan jalur transportasi yang menjadi patokan bagi semua kota di dunia. Selain itu, bangsa romawi juga menciptakan Kalender Julian pada tahun 46 sebelum masehi yang menjadi cikal bakal dari Kalender Masehi.

8. MONGOLIA

Kali ini adalah bangsa yang berasal dari Asia yaitu Mongolia. Bangsa Mongolia bermukim di daerah Asia Timur, diapit oleh Rusia dan China, terkurung daratan dan jauh dari lautan. Dahulu, bangsa ini terkenal sebagai bangsa penakluk yang sangat ganas dan kejam dengan pemimpin legendarisnya, Genghis Khan dan Hulagu Khan. Bangsa Mongolia ini pula yang "menghabisi" Khilafah Abbasiyah secara sadis pada abad 13. Bangsa ini pula yang disebut-sebut sebagai bangsa dengan wilayah terluas di muka bumi ketika menguasai seluruh daratan di Asia Timur. Wilayah Mongolia ketika itu luasnya berkali-kali lipat dari wilayah Kekaisaran Romawi. Tak heran, Mongolia Kuno disebut-sebut sebagai kerajaan paling besar, paling kuat, dan paling kejam dalam sejarah.

Bangsa ini banyak memilki peran penting dalam bidang ilmu pengetahuan dan administrasi, seperti taktik politik dan taktik perang yang efektif, hingga sistem pengiriman pos yang efisien. Lewat serangkaian invasinya untuk menaklukkan seluruh wilayah Asia, Bangsa Mongolia juga telah mengubah peta sejarah terutama nasib Rusia. Pada awal abad 20, taktik invasi Bangsa Mongolia itu pula yang menjadi pedoman dan inspirasi Hitler untuk menaklukkan dunia. Pengaruh Mongolia secara tidak langsung terasa sampai saat ini.

7. ARAB

Bangsa Arab adalah etnik di timur tengah yang terbagi-bagi dalam banyak sub-etnik, salah satunya Saudi. Bangsa padang pasir ini kini tersebar di beberapa negara antara lain Saudi, Uni Emirat, Libanon, Yaman, Suriah, Iraq, dan lainnya. Sebelum kemunculan agama Islam di Saudi, Bangsa Arab dikenal barbar.

Pengaruh Bangsa Arab bagi umat manusia di seluruh dunia sangat banyak. Mulai dari penyebaran agama Islam yang mempengaruhi peta politik dan ekonomi dunia, serta pengaruh kebudayaan Arab terutama angka Arab dalam bidang matematika yang dianggap lebih akurat dan efisien daripada angka Romawi. Lewat angka Arab inilah, lahir banyak teknologi modern pada zaman sekarang dan seterusnya. Selain itu, penaklukkan Konstantinopel oleh Bangsa Turki tak terlepas dari pengaruh pemikiran-pemikiran Arab. Penaklukkan itu pula yang mengusir Bangsa-Bangsa Eropa dari tanahnya sendiri, mendorong Bangsa Eropa untuk berkelana mencari rumah baru sampai ke benua Amerika dan Asia Tenggara, menjajah banyak bangsa di dua benua tersebut.

6. PERSIA

Bangsa Persia adalah nenek moyang dari Bangsa Iran sebelum budaya Arab dan agama Islam mencampuri kultur asli Persia. Bangsa Persia telah eksis dan membentuk peradaban yang sangat maju 3.000 tahun sebelum masehi. Kemunduran Bangsa Persia terjadi pada masa pemerintahan Sassania. Pada masa ini pula Persia takluk hingga dijajah oleh Bangsa Arab. Di bawah kekuasaan Bangsa Arab, kultur asli Persia perlahan-lahan lenyap digantikan oleh budaya Arab hingga Persia berubah menjadi Iran.

Pengaruh Persia pada perkembangan dunia berupa penemuan bagi peradaban umat manusia, antara lain batu bata, lem, kincir angin, minuman wine, es krim, biskuit, alat musik petik tar (cikal bakal gitar), sistem pengiriman pos, sistem pajak, dan deklarasi Hak Asasi Manusia pertama yang menginspirasi Inggris membuat Magna Carta.

5. YUNANI

Yunani adalah satu bangsa di Eropa Barat yang eksis sejak 1.000 tahun sebelum masehi dan masih eksis sampai hari ini. Bangsa ini terdiri dari beragam etnik antara lain Attic, Ionic, Aeolic, dan Doric. Pada zaman kejayaannya (500 SM - 600 M), Yunani dikenal sebagai bangsa yang beradab dan cerdas. Namun bangsa ini hancur lebur ketika diserang oleh Romawi. Sejak saat itu, Bangsa Yunani tak pernah semaju dulu lagi.

Bangsa Yunani banyak menyumbang penemuan bagi umat manusia, antara lain kincir air, alarm jam, odometer, kartografi (ilmu pembuatan peta), zoologi (ilmu tentang hewan), dasar-dasar geometri, ratusan terobosan dalam bidang astronomi, biologi, dan fisika, penemuan ratusan jenis obat herbal, penyelenggaraan ajang olimpiade, dan terakhir tentunya pencetusan sistem demokrasi yang memungkinkan satu kelompok masyarakat untuk memilih pemimpin secara damai tanpa peperangan. Sistem inilah yang kemudian banyak dianut oleh negara-negara di seluruh dunia menggantikan sistem otokrasi pasca Perang Dunia I dan II untuk menghindari terjadinya peperangan serupa hanya untuk memperebutkan kekuasaan.

4. CHINA

Bangsa China merupakan salah satu bangsa paling tua di dunia. Mereka telah membentuk peradaban maju sejak 2.000 tahun sebelum masehi dan masih eksis sampai saat ini. Bangsa yang bermukim di Asia Timur ini terkenal cerdas, disiplin, dan ambisius. Sejarah panjang Bangsa China mengalami naik dan turun selama ribuan tahun. Sempat berjaya, terpuruk, lalu bangkit lagi.

Bangsa China juga merupakan salah satu bangsa yang paling banyak menyumbangkan penemuan bagi umat manusia. Berikut penemuannya:

- Kertas
- Sablon
- Sumpit
- Garpu
- Kompas
- Dayung
- Kemudi Kapal
- Alat Pancing
- Panah Mekanis (Crossbow)
- Serbuk Mesiu
- Bom
- Peti Mati
- Gerobak
- Kain Sutra
- Uang Kertas
- Besi Cor
- Bell
- Seismograf
- Layang-Layang
- Kembang Api
- Tali Leher Kuda
- Peleburan Besi dan Baja
- Mesin Tenun
- Permainan Domino
- Permainan Cuju (cikal bakal sepak bola)
- Pengobatan Akupunktur
- Tambal Gigi
- Peralatan Masak Modern
- Tahu, Mie, Bakso, Siomay, Cincau, Bakpao, dll...

3. MESIR

Bangsa Mesir adalah satu bangsa yang telah bermukim di Afrika Utara sejak 6.000 tahun yang lalu. Kemajuan Mesir di bidang teknologi justru terjadi pada masa-masa gelap Mesir di bawah pemerintahan Firaun. Tercatat Mesir menyumbang beberapa penemuan krusial dan penting bagi umat manusia, antara lain jam matahari (cikal bakal jam modern), kalender matahari (cikal bakal kalender modern), alfabet gambar (cikal bakal alfabet modern), kunci pintu, tinta, sikat gigi, dan alat bajak sawah.

2. INDIA

India adalah bangsa paling tua dan pertama di dunia yang bermukim di Asia Selatan sejak 30.000 tahun yang lalu. Bangsa India diakui memiliki kebudayaan yang menjadi induk bagi semua budaya di Asia bahkan dunia.

India menyumbang beberapa penemuan paling penting dalam sejarah umat manusia. Penemuan tersebut antara lain adalah bahasa sanskerta (induk dari semua bahasa di dunia), sistem angka desimal (cikal bakal angka Arab), sistem angka biner, penggaris, dan permainan chaturanga (cikal bakal permainan catur).

1. MESOPOTAMIA

Bangsa Mesopotamia atau lebih dikenal dengan Bangsa Babilonia (Ibu Kota Mesopotamia) adalah satu bangsa kuno yang hidup di daerah Iraq dan Suriah 4.000 tahun sebelum masehi. Bangsa Mesopotamia adalah bangsa paling maju di zamannya. Para ilmuwan menganggap Mesopotamia sebagai bangsa pertama yang membentuk satu negara maju yang tertata oleh aturan, menjadi pusat politik, ekonomi, dan urbanisasi. Bahkan beberapa sejarawan sering menjuluki New York sebagai "Babilonia Masa Kini", sebab Kota Babilonia di Mesopotamia adalah kota megapolitan di zamannya, mirip seperti New York hari ini.

Mesopotamia menyumbang beberapa penemuan antara lain adalah konsep matematika, konsep waktu, bahasa sandi, pertanian, irigasi, gunting, dan terakhir adalah penemuan sederhana yang menjadi lompatan besar bagi peradaban manusia, penemuan terpenting nomor 1 dari 100 penemuan paling penting sepanjang sejarah versi History Channel adalah: RODA.
Itulah bangsa-bangsa yang telah merubah peradaban manusia hingga menjadi modern seperti saat ini.

Sumber referensi:

http://www.kaskus.co.id/thread/5813c4ef31e2e660178b456c/kaskus.co.id/?utm_source=facebook&utm_medium=internalpost&utm_campaign=hotthread

Friday, 28 October 2016

Ulasan Singkat Suku Etoro Papua Nugini

Sebenarnya penulis sangat tertarik untuk membahas topik tentang suku etoro, namun referensi tentang suku ini sangat minim. Hanya sumber dari wikipedia dan beberapa blog lainnya. Tetapi cenderung pembahasan tentang adat kedewasaan yang paling banyak dibahas.

Suku Etoro atau Edolo adalah suku yang berada di Papua Nugini. Diketahui bahwa Papua Nugini merupakan salah satu tetangga Negara indonesia yang berbatasan langsung. Wilayah suku Etoro meliputi lereng selatan Gunung Sisa, di sepanjang ujung selatan pegunungan tengah Nugini, di dekat Dataran Tinggi Papua.

Ulasan Singkat Suku Etoro Papua Nugini

Ritual homoseksual

Suku ini dikenal oleh para antropolog karena ritual homoseksualnya. Suku Etoro percaya bahwa laki-laki muda harus menelan sperma tetua mereka setiap harinya dari umur 12 hingga 17 untuk mencapai status pria dewasa. Etoro percaya bahwa setiap orang memiliki kekuatan kehidupan dan konsentrasi kekuatan kehidupan terbesar ada di dalam sperma. Kekuatan kehidupan ini berpindah ke orang lain melalui hubungan seksual. Perempuan dianggap membuang kekuatan kehidupannya jika tidak hamil setelah berhubungan seks. Semakin tua seseorang, tubuh mereka semakin lemah, dan ini dikaitkan dengan berkurangnya kekuatan kehidupan.

Pernikahan

O'Neil dan Kottak setuju bahwa sebagian besar laki-laki menikah dan memiliki hubungan heteroseksual dengan istrinya. Akibat ketakutan bahwa seks heteroseksual dapat membuat mereka mati lebih awal dan keyakinan bahwa seks homoseksual memperpanjang hidup, hubungan heteroseksual lebih difokuskan pada reproduksi. Pendapat inilah yang membuat suku memiliki kebiasaaan yang aneh.

Tentu saja suku ini sangat terlihat aneh dan bahkan ritualnya juga tidak wajar yang lebih memilih hubungan homoseksual dari pada heteroseksual.

Sumber referensi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Etoro

Sejarah Asal Usul Gelar Andi Suku Bugis - Sulawesi Selatan

Pada artikel sebelumnya saya sudah membahas mengenai adatdan senjata tradisional suku Bugis. Nah pada artikel kali ini kita akan masuk lebih dalam lagi dalam budaya suku Bugis. Yang akan kita bahas adalah asal usul Gelar Andi Suku Bugis.

Secara umum gelar Andi biasanya ditujukan pada para bangsawan Bugis, atau mereka yang memiliki peran penting di masyarakat. Salah satunya adalah keturunan Raja. Kenapa bisa para bangsawan bugis bergelar Andi? Siapa yang memulainya dan alasannya kenapa? Yuk kita simak ulasannya dibawah ini.

Sejarah Asal Usul Gelar Andi Suku Bugis - Sulawesi Selatan

Sejarah Gelar Andi Bugis


Versi 1

Nama Andi ini dimulai ketika 24 Januari 1713. Gelar ini dipakai pada semua keturunan hasil perkawinan Lapatau dengan keturuanan raja. Seperti:

1. Lapatau dengan putri Raja Bone sejati
2. Lapatau dengan putri Raja Luwu (yang bersekutu dengan kerajaan Gowa)
3. Lapatau dengan putri raja Wajo (yang bersekutu dengan kerajaan Gowa)
4. Lapatau dengan putri Sultan Hasanuddin (Sombayya Gowa)
5. Anak dan cucu Lapatau dengan putri Raja Suppa dan Tiroang
6. Anak dan cucu Lapatau dengan putri raja sejumlah kerajaan kecil yang berdaulat di Celebes.

Perkawinan tersebut merupakan upaya VOC untuk membangun dan mengendalikan sosiologi baru di Celebes. Dan dengan alasan ini pula maka semua bangsawan laki-laki yang potensial pasca perjanjian bungaya, yang extrim dikejar sampai ke pelosok nusantara dan yang softly diminta tinggalkan bumi sawerigading (Celebes). Namun (Alm) Jendral Muhammad Yusuf yang merupakan bangsawan Bugis, enggan menggunakan gelar Andi yang merupakan produk exlusivisme buatan VOC. Beliau sejatinya orang Bugis genetis sang Sawerigading. Selain itu juga bahwa Yusuf Kalla adalah bangsawan Bugis tetapi beliau tidak memakai gelar “Andi” karena bukan keturunan langsung Lapatau.

Versi 2

Dalam versi lain, walaupun kebenaraannya masih dipertanyakaan selain karena belum ditemukan catatan secara tertulis dalam Lontara tetapi ada baiknya juga dipaparkan sebagai salah satu referensi penggunaan nama “Andi” tersebut. Di era pemerintahan La Pawawoi Karaeng Sigeri hubungan Bone dan VOC penuh dengan ketegangan dan berakhir dengan istilah “Rompana Bone“. Dalam menghadapi Belanda dibentuklah pasukan khas yaitu pasukan “Anre Guru Ana’ Karung” yang di pimpin sendiri Petta Ponggawae.

Dalam pasukan tersebut tidak di batasi hanya kepada anak-anak Arung (bangsawan) saja tetapi juga kepada anak-anak muda tanggung yang orangtuanya mempunyai kedudukan di daerah masing-masing seperti anak pabbicara’e, salewatang dan lain-lain, bahkan ada dari masyarakat to meredaka. Mereka mempunyai ilmu sebagai “Bakka Lolo dan Manu Ketti-ketti“. Anggota pasukan tersebut disapa dengan gelaran “Andi” sebagai keluarga muda angkat Raja Bone yang rela mati demi patettong’ngi alebbirenna Puanna (menegakkan kehormatan rajanya).

Menurut cerita orang-orang tua Bone, Petta Imam Poke saat menerima tamu yang mamakai gelaran “Andi” atau “Petta” dari daerah khusus Bone maka yang pertama ditanyakan “Nigatu Wija idi’ Baco/Baso? (anda keturunan siapa Baso/Baco?). Baso/Baco adalah sapaan untuk anak laki-laki.
Jika mereka menjawab “Iyye, iyya atanna Petta Pole (saya adalah hambanya Petta Pole)”, maka Petta Imam Poke mengatakan “Koki tudang ana baco/baso” (duduklah disamping saya) sambil menunjukkan dekat tempat duduknya, maka nyatalah bahwa “Andi” mereka pakai memang keturunan bangsawan pattola, cera dan rajeng, tetapi kalau jawaban Petta mengatakan “oohh, enreki mai ana baco” sambil menunjukkan tempat duduk di ruang tamu maka nyatalah “Andi” mereka pakai karena geleran bagi anak ponggawa kampong (panglima) atau ana to maredeka yang pernah ikut dalam pasukan khas tersebut.

Versi 3

Dalam versi yang hampir sama, gelar “Andi” pertama kali digunakan oleh Raja Bone ke-30 dan ke-32 La Mappanyukki, beliau adalah Putra Raja Gowa dan Putri Raja Bone. Gelar itu disematkan didepan nama beliau pada Tahun 1930 atas Pengaruh Belanda.

Gelar Andi tersebut bertujuan untuk menandai Bangsawan-bangsawan yang berada dipihak Belanda, dan ketika melihat berbagai keuntungan dan kemudahan yang diperoleh bagi Bangsawan yang memakai gelar “Andi” didepan namanya, akhirnya setahun kemudian secara serentak seluruh Raja-Raja yang berada di Sulawesi Selatan menggunakan Gelar tersebut didepan namanya masing-masing.
Kelihatannya kita harus membuka lontara antara era pemerintahan La Tenri Tatta Petta To Ri Sompa’e sampai La Mappanyukki khususnya versi Bone karena era itulah terjadi jalinan kerja sama maupun perseteruan antara Raja-Raja di celebes dengan VOC, selain itu orang yang bersangkutan menyaksikan awal penggunaan secara meluas bagi Ana’ Arung juga semakin sukar dicari alias sudah banyak yang berpulang ke Rahmatullah, salah satu pakar yang begitu arif tentang masalah ini adalah Almahrum Tau Ri Passalama’e Anre Gurutta H.A.Poke Ibni Mappabengga (Mantan imam besar mesjid Raya Bone

Versi 4

Gelar Andi, menurut Susan Millar dalam bukunya ‘Bugis Weddings’ (telah diterbitkan oleh Ininnawa berjudul (Perkimpoian Bugis) disinggung bagaimana proses lahirnya gelar Andi itu. Memang, seperti yang disinggung di atas, saat itu Pemerintah Belanda di tahun 1910-1920an ingin memperbaiki hubungan dengan para bangsawan Bugis dengan membebaskan keturunan bangsawan dari kerja paksa. Saat itu muncul masalah bagaimana menentukan seorang berdarah bangsawan atau tidak.
Akibatnya, berbondong-bondonglah warga mendatangi raja dan menegosiasikan diri mereka untuk diakui sebagai bangsawan, karena rumitnya proses itu maka dibuatlah sebuah gelar baru untuk menentukan kebangsawanan seseorang dengan derajat yang lebih rendah. di pakailah kata Andi untuk menunjukkan kebangsawanan seseorang dalam bentuk sertifikat (mungkin sejenis sertifikat yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah lulus dalam kursus montir mobil atau sejenisnya).

Penggunaan Gelar Andi di Setiap Kerajaan Suku Bugis


Penggunaan gelar Andi di setiap kerajaan berbeda-beda. Di Soppeng misalnya hanya menetapkan bahwa gelar Andi adalah bangsawan pada derajat keturunan ketiga, sementara Wajo dan Bone hingga keturunan ketujuh. Dari sumber berikutnya dapat kami uraikan sebagai berikut.

Gelar Kebangsawanan “Datu” adalah gelar yang sudah ada sejak adanya kerajaan Bugis, di Luwu misalnya, semua raja bergelar Datu, dan Datu yang berprestasi bergelar Pajung, jadi tidak semua yang bergelar Datu disebung Pajung. Sama halnya di Bone, semua raja bergelar Arung, tapi tidak semua Arung bergelar Mangkau, hanya arung yang berprestasi bergelar Mangkau. Begitu juga di Makassar atau Gowa, semua bangsawan atau raja-raja bergelar Karaeng, hanya yang menjadi raja di Gowa yang bergelar Sombaiya.

Gelar kebangsawanan lainnya, mengikut kepada pemerintahan atau panggaderen di bawahnya, seperti Sulewatang, Arung, Petta, dan lain-lain. Jadi gelar itu mengikut terhadap jabatan yang didudukinya. Sementara untuk keturunannya yang membuktikan sebagai keturunan bangsawan, di Makassar dipanggil Karaeng. sedang di Bugis dipanggil Puang, dan di Luwu dipanggil Opu. Adapun gelar Andi, pertama-tama yang menggunakannya adalah Andi Mattalatta untuk membedakan antara pelajar dari turunan bangsawan dan rakyat biasa.

Dan gelar Andi inilah yang diikuti oleh turunan bangsawan Luwu, dan Makassar. Jadi di zaman Andi Mattalattalah gelar ini muncul. Gelar “Andi” baru ada setelah era Pemerintah Kolonial Belanda (PKB). Setelah 1905, Sulawesi Selatan benar-benar ditaklukkan Belanda dan terjadi kekosongan kepemimpinan lokal.

Tahun 1920-1930an PKB mencanangkan membentuk Zelf Beestuur (Pemerintah Pribumi/Swapraja) yang dibawahi oleh Controleur (Pejabat Belanda) untuk Onder Afdeling. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, jika memang Andi diidentikan dengan Belanda, mengapa pejuang kemerdekaan (Datu Luwu Andi Jemma, Arumpone, Andi Mappanyukki, Ranreng Tuwa Wajo Andi Ninnong) tetap memakai gelar Andi didepan namanya sementara mereka justru menolak dijajah? tapi juga harus diakui bahwa ada juga yang berinisial Andi yang tunduk patuh pada PKB. Nah ini yang kita harus bijak menilai antara gelar dan pilihan personal terhadap kemerdekaan/penjajahan.

Secara umum Bangsawan Bugis berasal dari pemimpin-pemimpin anang/kampung/wanua sebelum datangnya To Manurung/To Tompo. Pimpinan-pimpinan kampung ini yang selanjutnya disebut kalula/arung dengan nama alias/gelar berbeda-beda yang disesuaikan dengan nama kampung/kondisi/perilaku bersangkutan yang dia peroleh melalui pengangkatan/pelantikan oleh sekelompok anang/masyarakat maupun secara kekerasan (peperangan bersenjata) yang selanjutnya diwariskan secara turun-temurun kepada ahli warisnya, kecuali jika dikemudian hari ternyata dia ditaklukkan dan diganti oleh penguasa yang lebih tinggi/kuat.

Sedangkan To Manurung dan To Tompo yang, ‘asal usul’ dan ‘namanya’ kadang-kadang tidak diketahui dan segala kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan yang dimilikinya, oleh sekelompok pimpinan kalula/arung/matoa sepakat untuk mengangkatnya menjadi ketua kelompok dikalangan kalula/arung yang selanjutnya menjadi penguasa/raja yang berarti pula pondasi dasar sebuah kerajaan/negara telah terbentuk –dimana tanah/wilayah, pemimpin/penguasa dan pengakuan dari segenap rakyat sudah terpenuhi.

Penguasa/Raja biasanya kimpoi dengan sesama To Manurung/To Tompo [jika dia 'ada'/muncul tanpa didampingi pasangannya] dan pada tahap awal cenderung mengawinkan anak-anaknya dengan bangsawan lokal yang sudah ada sebelumnya. Ketika kerajaan-kerajaan kecil tadi dalam perkembangannya menjadi kerajaan besar, barulah perkawainan anak antar-kerajaan mulai diterapkan oleh Arung Palakka.

FATIMAH BANRI WE BANRI GAU 1871 – 1895

We Fatimah Banri atau We Banri Gau Arung Timurung menggantikan ayahnya Singkeru’ Rukka Arung Palakka menjadi Mangkau’ di Bone. Dalam khutbah Jumat namanya disebut sebagai Sultanah Fatimah dan digelarlah We Fatimah Banri Datu Citta. Pada tahun 1879 M. kimpoi dengan sepupu satu kalinya yang bernama La Magguliga Andi Bangkung Karaeng Popo, anak dari We Pada Daeng Malele Arung Berru dengan suaminya I Malingkaang KaraengE ri Gowa. Yang menjadi tanda tanya adalah :

Apakah sebelum La Magguliga Andi Bangkung Karaeng Popo masih ada juga yang menggunakan nama/gelar itu sebelumnya? Mengapa kata ‘Andi’ yg digunakan/disepakati sebagai penandaan gelar bagi kaum bangsawan Sulawesi Selatan pada saat itu sampai dengan sekarang? Kenapa bukan Karaeng atau Raden atau Uwak atau dan lain-lain?

Urgensi tata cara pandangan dalam asal-usul Andi itu sebenarnya karena tata cara pandang tergantung nara sumber data yang dimilki, Perbedaan dapat kita lihat sebagai berikut yaitu :

Apabila yg memakai data dari system pemerintahan yang pada proses pendudukan Belanda mungkin ada benarnya bahwa Andi adalah pemberian Belanda, tapi ini akan menimbulkan pertanyaan yaitu : Apakah pemberian nama Andi dimana posisi bangsawan saat itu gampang dan mudah melihat yang mana pro dan anti terhadap Belanda karena baik pro dan anti Belanda semuanya menyandang gelar itu? Lalu apakah contoh yang paling mudah ketika Andi Mappanyukki sebagai tokoh yg mempopulerkan nama Andi merupakan orang anti Belanda?

Dari pertanyaan diatas dapat disimpulkan sementara bahwa kata asal-usul nama Andi adalah pemberian Belanda telah gugur. Apabila data yang mengacu karena istilah penghormatan dari masyarakat luar Bugis atau akhirnya digunakan oleh Belanda terhadap bangsawan Bugis dianggap karena sama sederajat juga ada benarnya dimana yang dulunya istilah Adik adalah Andri menjadi Andi itu sangat relevan karena contoh sangat konkrit adalah sosok Andi Mappanyukki pada sejarah Kronik Van Paser yang namanya disebut hanya La Mappanyukki saja, namun karena banyaknya tetua Bangsawan Wajo hidup di Paser saat itu hingga mengatakan Andri sehingga masyarakat suku-suku Paser, Kutai dayak hingga Banjar sulit menyebutkan dan menyebabkan penyebutan menjadi Andi saja, hal yang sama ketika salah satu Ibukota Kerajan Kutai diberikan nama oleh masyarakat Bugis yang bernama Tangga Arung namun sulit penyebutannya oleh masyarakat setempat menjadi Tenggarong. Ini juga menjadi data akurat bahwa nama Andi adalah aktualisasi perubahan dari Andri yang tidak bisa diucapkan dan akhrinya masuk ke wilayah orang Belanda dimana orang-orang bule baik Belanda, Portugis hingga Inggris sulit menyebut huruf “R”.

Nama Gelar Bugis selain Andi


Di bugis di kenal nama yang menjadi ciri khas gelar kebangsawanan seperti Andi, Baso, Besse atau Tenri. Andi untuk keturunan bangsawan asli yang paling tinggi tingkatannya atau kedua orang tuanya adalah Andi maka secara otomatis maka anaknya juga bergelar Andi sedangkan jika orang tuanya cuma satu maka di beri gelar Baso untuk laki-laki dan Besse untuk perempuan. Tenri biasanya dipakai jika masih keturunan bangsawan. Selain itu sering juga nama-nama tersebut digabung menjadi Andi Baso, Andi Besse, Andi Tenri.

Penggunaan Gelar Andi dalam nama Bugis

  1. Andi Makkarella
  2. Andi Azis
  3. Andi Farida
  4. Andi Maddaremmeng
  5. Andi Makkatengnga
  6. Andi Mappanyukki
  7. Dll

Sejarah gelar Andi masih menjadi polemik karena memiliki cerita sejarah yang cukup panjang. Seiring berkembangnya zaman, pemberian nama Andi tidak sama seperti dahulu. Pemberian Nama Andi sudah banyak dipakai walaupun kedua orang tuanya bukan Andi bahkan ada yang cuma punya kerabat bergelar Andi makanya merekapun memberi nama mereka Andi, biasanya mereka ini adalah mereka yang belum paham struktur dan silsilah serta pemberian nama gelar bangsawan Andi.
Itulah sejarah singkat mengenai asal usul gelar Andi pada masyarakat Bugis. Semoga bermanfaat.

Sumber referensi:
http://www.kaskus.co.id/thread/54d30b3b0f8b461d718b4574/asal-usul-gelar-nama-quotandiquot-masyarakat-bugis-sulawesi-selatan/
1. blogerbugis.blogspot.com
2. rappang.com
3. portalbugis.wordpress.com
4. kompasiana.com
5. anneahira.com

sumber gambar:
http://ruang12berbagi.blogspot.co.id/

Sunday, 25 September 2016

Daftar Suku Bangsa di Tiongkok China

Daftar Suku Bangsa di Tiongkok China. China yang terkenal dengan luas wilayahnya memiliki beragam suku bangsa. Sama seperti di Indonesia, suku bangsa yang berada di Tiongkok memiliki kebudayaan yang berbeda-beda.

Dalam daftar resmi yang diakui dalam lingkup Republik Rakyat Tiongkok, terdapat 56 suku resmi. Dari jumlah tersebut terdapat 5 suku yang digolongkan sebagai suku mayoritas (dalam hal jumlah) dan sisanya merupakan suku minoritas yang terkosentrasi di pedalam Tiongkok. Dalam daftar tersebut termaksud juga suku Tibet dan Taiwan yang mana menurut pemerintah Beijing adalah wilayah sah Republik Rakyat Tiongkok.

Pemerintah Beijing menerapkan kebijakan berbeda pada suku-suku mayoritas dan minoritas. Ada beberapa jaminan yang hanya dinikmati oleh suku-suku minoritas seperti daerah otonom, kebijakan kependudukan yang berbeda dengan suku mayoritas dan sebagainya.

Daftar Suku Bangsa di Tiongkok China


Berikut daftar suku bangsa yang berada di Tiongkok


Suku mayoritas
  1. Suku Han (汉族 : Hàn Zú)
  2. Suku Man (Manchu) (满族 : Mǎn Zú)
  3. Suku Hui (回族 : Huí Zú)
  4. Suku Menggu / Suku Mongol (蒙古族 : Měnggǔ Zú)
  5. Suku Zang / Suku Tibet (藏族 : Zàng Zú)

Suku minoritas
  1. Suku Zhuang (壮族 : Zhuàng Zú)
  2. Suku Miao (Hmong) (苗族 : Miáo Zú)
  3. Suku Weiwu / Suku Uigur (维吾尔族: Wéiwúěr Zú)
  4. Suku Yi (彝族 : Yí Zú)
  5. Suku Tujia (土家族 : Tǔjiā Zú)
  6. Suku Buyi (布依族 : Bùyī Zú)
  7. Suku Dong (侗族 : Dòng Zú)
  8. Suku Yao (瑶族 : Yáo Zú)
  9. Suku Chaoxian / Suku Korea(朝鲜族 : Cháoxiǎn Zú)
  10. Suku Bai (白族 : Bái Zú)
  11. Suku Hani (哈尼族 : Hāní Zú)
  12. Suku Li (黎族 : Lí Zú)
  13. Suku Hasake / Suku Kazak (哈萨克族: Hāsàkè Zú)
  14. Suku Dai (傣族 : Dǎi Zú, juga disebut Dai Lue, merupakan salah satu etnis Thai)
  15. Suku She (畲族 : Shē Zú)
  16. Suku Lisu (傈僳族 : Lìsù Zú)
  17. Suku Gelao (仡佬族 : Gēlǎo Zú)
  18. Suku Lahu (拉祜族 : Lāhù Zú)
  19. Suku Dongxiang (东乡族 : Dōngxiāng Zú)
  20. Suku Wa (佤族 : Wǎ Zú)
  21. Suku Shui (水族 : Shuǐ Zú)
  22. Suku Naxi (纳西族 : Nàxī Zú) (termasuk Mosuo (摩梭 : Mósuō))
  23. Suku Qiang (羌族 : Qiāng Zú)
  24. Suku Tu (土族 : Tǔ Zú)
  25. Suku Xibo (锡伯族 : Xíbó Zú)
  26. Suku Mulao (仫佬族 : Mùlǎo Zú)
  27. Suku Kerkezi / Suku Kirgiz (柯尔克孜族 : Kēěrkèzī Zú)
  28. Suku Dawor / Suku Daur (达斡尔族: Dáwòěr Zú)
  29. Suku Jingpo (景颇族: Jǐngpō Zú)
  30. Suku Sala / Suku Salar (撒拉族 : Sǎlá Zú)
  31. Suku Bulang (布朗族 : Bùlǎng Zú)
  32. Suku Maonan (毛南族 : Màonán Zú)
  33. Suku Tajike / Suku Tajik (塔吉克族 : Tǎjíkè Zú)
  34. Suku Pumi (普米族 : Pǔmǐ Zú)
  35. Suku Achang (阿昌族 : Āchāng Zú)
  36. Suku Nu (怒族 : Nù Zú)
  37. Suku Ewenke / Suku Ewenki (鄂温克族 : Èwēnkè Zú)
  38. Suku Jing / Suku Vietnam (京族 : Jīng Zú)
  39. Suku Jinuo (基诺族: Jīnuò Zú)
  40. Suku De'ang (德昂族 : Déáng Zú)
  41. Suku Wuzibieke / Suku Uzbek (乌孜别克族: Wūzībiékè Zú)
  42. Suku Eluosi / Suku Rusia (俄罗斯族: Éluōsī Zú)
  43. Suku Yugu / Suku Yugur (裕固族 : Yùgù Zú)
  44. Suku Baonan (保安族 : Bǎoān Zú)
  45. Suku Menba (门巴族 : Ménbā Zú)
  46. Suku Elunchun / Suku Oroqen (鄂伦春族 : Èlúnchūn Zú)
  47. Suku Dulong (独龙族: Dúlóng Zú)
  48. Suku Tatar (塔塔尔族 : Tǎtǎěr Zú)
  49. Suku Hezhe (赫哲族 : Hèzhé Zú)
  50. Suku Luoba (珞巴族 : Luòbā Zú)
  51. Suku Gaoshan (suku aborigin di Taiwan) (高山族 : Gāoshān Zú)
sumber referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_suku_di_Tiongkok