This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label tradisi. Show all posts
Showing posts with label tradisi. Show all posts

Sunday, 8 October 2017

Tradisi Unik Pilih dan Coba Pria Untuk Dijadikan Jodoh Suku Kreung

Mencari pasangan hidup merupakan hal yang susah-susah gampang, kadang kita membutuhkan pendekatan untuk mengetahui karakter pasangan kita. Namun ada yang unik dari cara mencari pasangan dari suku Kreung.

Tradisi Unik Pilih dan Coba Pria Untuk Dijadikan Jodoh Suku Kreung

Suku yang berada di Kamboja ini memiliki cara unik sendiri untuk mendapatkan pasangan hidup. Anehnya para wanita disana memiliki tradisi mencoba pria. Maksud mencoba pria disini adalah memilih pria yang akan jadi pasangannya dengan cara tidur dengan laki-laku tersebut. Dan itu bukan hanya dilakukan oleh satu dua pria saja, tetapi lebih dari satu, sampai si gadis menemukan pria pilihannya. Penasaran dengan tradisi tersebut? Dibawah ini adalah ulasannya.

Gadis 15 Tahun atau yang sudah M

Tradisi ini dimulai ketika seorang anak gadis berumur 15 tahun, atau yang sudah mengalami menstruasi. Setelah orang tua gadis mengetahui hal tersebut, maka dibangunkanlah sebuah pondok sederhana yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Di pondok inilah tempat proses pemilihan jodoh.

Pondok tersebut terlihat sederhana seperti pondok bamboo yang berada di pematang sawah. Di pondok tersebut si gadis akan memilih pemuda yang datang untuk dijadikan suaminya. Mereka akan menghabiskan malam bersama. Ritual ini merupakan ritual yang sering dilakukan sehingga tidak ada rasa tabu dan semacamnya.

Para Pemuda Bergantian Mendekati si Gadis

Pondok yang didirikan tersebut akan menjadi tempat tinggal sementara si gadis sampai ia berhasil menemukan jodohnya. Di dalam pondok ini, para pemuda akan bergantian satu per satu untuk mengenal lebih dalam si gadis dan tentu saja boleh untuk menginap.

Mekanisme pemilihan tidak begitu jelas, namun dalam pemilihan ini hanya boleh satu orang dalam sehari semalam. Dan biasanya tradisi ini memakan waktu yang cukup lama dan menghabiskan banyak kandidat.

Tidak Selalu Ada Percintaan

Dalam ritual ini pasti ada namanya percintaan bahkan bisa berulang kepada pria yang berbeda. Tapi, tidak semua pria yang masuk ke dalam pondok diajak bercinta oleh si gadis. Ini semua dari kemauan si Gadis jika ia bilang tidak mau, maka si pemuda takkan berani menyentuhnya. Dan jika berani nekat maka hukuman adat yang sangat berat akan menantinya. Dalam banyak kasus, biasanya para pemuda hanya akan berbincang-bincang saja dengan si gadis di pondok.

Prosesi Ritual di Mata Pelaku dan Orangtua

Di mata masyarakat suku Kreung ini merupakan cara terbaik untuk mencari pasangan. Menurut para orangtua, cara ini sangat adil bagi si gadis karena ia bisa memilih sendiri pria yang disukainya sehingga pernikahan bakal awet. Sedangkan di mata para gadis, tradisi ini juga sangat memuaskan mereka karena mereka diberi keleluasaan untuk mencari pasangan.

Sumber referensi:

http://www.boombastis.com/ritual-suku-kreung/80167

8 Tradisi Suku Dunia Menuju Kedewasaan Yang Sangat Ekstrim

Memasuki masa remaja ciri-ciri pada anak adalah dengan mengalami menstruasi, mimpi basah dan beberapa perubahan fisik. Atau biasa juga disebut dengan masa puber. Ada hal unik yang dilakukan oleh beberapa suku di Dunia menyambut masa remaja. Beberapa diantaranya ada yang merayakan dengan cara berpesta, tetapi ada juga yang merayakannya dengan cara yang ekstrim.

Seperti yang terjadi pada beberapa suku di Dunia ini, mereka menyambut masa remaja dengan cara yang tidak biasa. Bahkan cara ini dapat dikatakan cara yang ekstrim dan dapat membuat anda menjadi ngilu mendengarnya. Berikut dibawah ini adalah 8 ritual ekstrim menyambut keremajaan.

1. Suku Adat Satere-Mawe dengan Ritual Semut Peluru

 Suku Adat Satere-Mawe dengan Ritual Semut Peluru

Satere-Mawe merupakan salah satu suku yang tinggal jauh di dalam pelosok hutan Amazon dan termaksud bagian dari negeri Brazi. Suku ini memiliki ritual khusus untuk menandai masa peralihan anak laki-laki menjadi pria dewasa. Cara yang dilakukannyapun sangat ekstrim, saya yakin Anda pasti tidak ingin mengikuti ritual seperti ini. Mereka menyiapkan sebuah selongsong daun berisi semut peluru dikenakan pada bagian alat reproduksi sang anak selama 10 menit. Perlu diketahui bahwa semut peluru adalah spesies semut yang memiliki gigitan paling menyakitkan di dunia. Jika mereka dapat melewati ritual ini dengan menahan rasa sakit akibat sengatan semut peluru, tandanya ia telah cukup dewasa.

2. Suku Xhosa - Sunat

Suku Xhosa - Sunat

Umat islam mewajibkan sunat bagi para lelaki, begitu juga tradisi penanda kedewasaan di suku Xhosa, Afrika Selatan. Saat memasuki usia akil baliq, anak-anak suku Xhosa dicukur dan dibawa ke pegunungan. Mereka diisolasi sementara ahli bedah datang untuk menyunat mereka. Mereka baru boleh kembali ke rumah setelah sembuh total. Kalau di Indonesia anak kecil di sunat dengan di iming imingi hadiah heheh.

3. Suku Hamar - Lompat Sapi

Suku Hamar - Lompat Sapi

Suku Hamar, Ethiophia memiliki perbedaan untuk menyambut kedewasaan. Masyarakat dari suku Hamar di Ethiophia harus melakukan ritual lompat sapi sebelum diizinkan menikah. Mereka memulai ritual ini dengan mencambuk lelaki di depan keluarga dan teman-temannya. Selanjutnya si lelaki tersebut harus melompat di atas punggung empat sapi yang dikebiri. Setelah lolos melalui ritual ini, sang pria baru diizinkan menikah. Sunggu perjuangan yang sangat berat untuk menikahi gadis suku Hamar. Kalau masyarakat Bugis, perjuangannya cukup mengumpul uang panai yang begitu tinggi heheh.

4. Suku Fula - Tato Wajah

Suku Fula - Tato Wajah

Bagi masyarakat suku Fula justru tato di wajah dianggap sebagai tanda kedewasaan. Dan ini berlaku bagi Tato para gadis perempuan yang dianggap telah dewasa, Para gadis suku Fula di Afrika Barat harus memiliki tato di wajah mereka. Tato tersebut dibuat dengan menggunakan sepotong kayu yang tajam. Dibayangkan saja pasti sangat menyakitkan. Seorang gadis yang sudah memiliki tato ini dianggap dewasa dan telah diizinkan untuk menikah.

5. Suku Masai - Berburu Singa

Suku Masai - Berburu Singa

Berburu singa?? Apa ga kebalik tuh, singa yang buru manusia? Hehe di suku Masai Masai dari Tanzania dan Kenya punya cara unik untuk menandai kedewasaan seseorang. Mereka melakukan regenerasi prajurit mereka setiap 6-10 tahun. Bakal calon prajurit ini disunat dan dipindahkan ke kamp khusus untuk diisolasi. Setelah itu mereka akan berburu singa sebagai puncak dari upacara pengesahan ini.

Namun seiring berkurangnya populasi singa pemerintah setempat mengeluarkan larangan untuk membunuh singa karena alasan perlindungan terhadap satwa ini.

6. Asa Gigi Khas Suku Mentawai

Asa Gigi Khas Suku Mentawai

Yang suka ngilu giginya pasti tidak akan melakukan hal ini. Tapi jika anda merupakan bagian dari suku mentawai, anda harus melakukan ritual ini. Para gadis yang menginjak masa dewasa akan melakukan asa gigi karena dianggap memiliki nilai-nilai tradisional yang luhur tentang kecantikan. Mereka percaya bahwa jika jiwa seseorang tidak puas dengan pemampilan tubuhnya, orang tersebut akan mati. Oleh karena itu, wanita muda mempertajam gigi mereka agar tampil lebih indah dan cantik.

7. Suku Aborigin - Perjalan Seorang Diri

Suku Aborigin - Perjalan Seorang Diri

Yang dimaksud perjalanan seorang diri bukanlah para Jomblo ya, disini merupakan salah satu tradisi suku Aborigin untuk menjadi pria dewasa. Suku Aborigin, Australia, mengirim para pemuda ke padang gurun selama 6 bulan untuk menguji apakah mereka telah siap menjadi pria dewasa. Seperti bertualang, mereka harus bertahan hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Setelah berhasil bertahan hidup dan melewati rintangan pada saat melakukan ujian ini, mereka kembali ke rumah dan dinyatakan telah menjadi laki-laki sejati.

8. Suku Sungai Sepik - Skarifikasi

Suku Sungai Sepik - Skarifikasi

Tradisi skarifikasi merupakan cara yang ekstrim, kenapa? Karena mereka membuat tatto dengan menggunakan silet yang tajam. Pola tatto yang dibuat menggunakan silet akan membuat kulit si pria menjadi seperti kulit kasa buaya. Dan ini merupakan tanda bahwa mereka sudah dianggap telah dewasa.

Sumber:

http://www.vemale.com/ragam/ragam/58979-8-ritual-dan-tradisi-menyambut-masa-dewasa-berbagai-suku-bangsa-di-dunia-unik-banget-8.html

Saturday, 4 March 2017

Si Gajang Laleng Lipa – Tradisi Mengerikan Suku Bugis

Pada artikel sebelumnya saya telah membahas tentang Sejarah dan Adat Istiadat Suku bugis Asal Sulawesi Selatan. Dan diartikel ini saya akan membahas lagi tentang kebudayaan suku Bugis, yaitu Si Gajang Laleng Lipa (Saling Tikam dalam Sarung).

Si Gajang Laleng Lipa – Tradisi Mengerikan Suku Bugis

Kenapa bisa terjadi tradisi si gajang laleng lipa? Jadi begini ceritanya. Masyarakat Bugis sangat menjunjung tinggi rasa malu atau dalam bahasa setempat adalah Siri. Dalam adat disebut bugis terdapat konsep Ade’, Siri na Passe. Ade’ adalah adat istiadat yang mesti dijunjung oleh masyarakat bugis, sedangkan Siri (malu) na Passe (rasa iba) adalah sikap yang tertuang dalam ade’ tersebut.

Pentingnya Siri dalam masyarakat Bugis sangat mempengaruhi kehidupan bermasyarakat, sehingga ada pepatah bugis yang menyatakan bahwa hanya orang yang punya siri yang dianggap sebagai manusia. Naia tau de’ gaga sirina, de lainna olokolo’e. Siri’ e mitu tariaseng tau (Barang siapa yang tidak punya siri (rasa malu), maka dia bukanlah siapa-siapa, melainkan hanya seekor binatang. Bahkan siri ini sangat berarti bagi masyarakat Bugis seperti dalam pepatah berikut “Siri Paranreng Nyawa Palao”, yang artinya : “Apabila harga diri telah terkoyak, maka nyawa lah bayarannya”.

Dari penjelasan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa Masyarakat Bugis sangat menjunjung tinggi rasa malu, sehingga jika harga diri mereka di injak-injak maka mereka akan mempertaruhkan nyawanya. Sehingga jika ada pihak keluarga saling bertikai hingga tidak menemukan titik temu maka jalan yang diambil adalah jalan adat yakni ritual sigajang laleng lipa’ (saling tikam dalam sarung)

Sigajang laleng lipa adalah sebuah tradisi masyarakat Bugis untuk menyelesaikan sebuah masalah dan telah dilakukan pada masa kerajaan beberapa tahun yang lalu. Tradisi Sigajang Laleng Lipa dilakukan oleh dua orang yang berduel dalam satu sarung menggunakan badik/kawali (senjata tradisional masyarakat bugis). Tradisi ini dilakukan ketika ada pihak yang bertikai yang tidak bisa terselesaikan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat, walaupun nyawa jadi taruhannya. Karena ke 2 keluarga tersebut merasa benar, maka permasalahan ini harus diselesaikan dengan Sigajang Laleng Lipa. Namun jika melakukan sigajang kedua bela pihak yang bertikai tidak harus lagi ada rasa dendam yang terpendam dan menganggap perkara sudah selesai. Hasil pertarungan dari Sigajang Laleng Lipa kebanyakan berakhir imbang, sama-sama meninggal, atau keduanya sama-sama hidup.

Sigajang Laleng Lipa adalah ritual pertarungan yang cukup mematikan. Namun, kita dapat melihat makna-makna positif dari tradisi ini seperti adanya pemecahan masalah melalui musyawarah dan mufakat dan tidak menggunakan ego dalam banyak hal kalau tidak ingin ada korban jiwa.
Namun seiring perkembangan zaman, tradisi ini telah ditinggalkan oleh masyarakat bugis makassar dan kini tradisi Sigajang ini telah dilestarikan sebagai warisan budaya leluhur Sulawesi Selatan, yang biasanya dipentaskan diatas panggung. Adapun Nilai-nilai dari ritual Sigajang Laleng Lipa (duel satu sarung), yang diartikan sarung sebagai simbol persatuan dan kebersamaan masyarakat Bugis Makassar, berada dalam satu sarung berarti kita dalam satu habitat bersama. Jadi sarung yang mengikat kita bukanlah ikatan serupa rantai yang sifatnya menjerat, akan tetapi menjadi sebuah ikatan kebersamaan di antara manusia.

Itulah penjelasan singkat tentang sigajang laleng lipa. Semoga bermanfaat.


Diliput dari berbagai sumber

Wednesday, 19 October 2016

5 Tradisi Berbahaya Yang Masih Dilakukan Dan Memakan Korban

Di era modern ini, beberapa suku bangsa masih melestarikan adat istiadat mereka. Walaupun secara perlahan adat tersebut kadang mulai ditinggalkan. Di indonesia saja, masih bisa kita jumpai beberapa suku bangsa yang masih memegang tradisi mereka.

Beberapa tradisi kadang terlihat aneh, bahkan terlihat mengerikan untuk dilakukan. Namun menurut suku-suku tersebut tradisi yang mereka lakukan memiliki tujuan tersendiri. Misalnya seperti tradisi meminta hujan, persembahan pada dewa dan lain sebagainya.
Berikut dibawah ini adalah beberapa tradisi yang dilakukan untuk tujuan tertentu namun terlihat agak aneh dan kadang mengerikan.

1. Tradisi Mengundang Hujan Desa La Esperanza Meksiko

Tradisi Mengundang Hujan Desa La Esperanza Meksiko

Di Desa Nahua, Negara Bagian Guerrero, Meksiko terdapat tradisi yang dilakukan setiap bulan Mei. Puluhan ibu-ibu berkumpul dan berkelahi di lapangan desa hingga berdarah-darah. Tradisi ini dimulai dengan membentuk lingkaran besar. Setiap desa diwakilkan oleh wanita dan mereka akan berhadapan dengan wakil dari desa lain. Dua wanita dewasa tersebut berhadap-hadapan dan kemudian saling berkelahi. Setiap ada darah muncrat, warga di lingkaran besar akan bersorak. Darah yang terciprat dari perkelahian sengit para ibu itu akan dikumpulkan di ember. Nantinya, ladang akan disirami darah itu demi memanggil hujan yang dipercaya berujung pada panen yang sukses.

Tradisi ini adalah gabungan antara ritual kuno di Meksiko dan Katolik. Namun sebenarnya pihak gereja setempat tidak mendukung tradisi tersebut. Tetapu sebagian warga masih meyakini bahwa tradisi tersebut bertujuan agar Dewa Hujan Tlaloc mau memberkahi hasil tani Desa Nahua. "Tidak ada yang peduli menang kalah. Lebih penting bagi warga agar perkelahian ini menghasilkan banyak darah untuk mengundang hujan"

2. Tradisi Pecahkan Batok Kelapa India

Tradisi Pecahkan Batok Kelapa India

Di India masih ada tradisi yang sedikit terlihat agak berbahaya. Setiap tahun ribuan warga pergi ke sebuah kuil di India selatan untuk melakukan ritual pemecahan batok kelapa menggunakan kepala. Uniknya tradisi ini dilakukan oleh semua kalangan, bahkan anak-anakpun diperbolehkan mengikutinya. Tujuannya adalah sebagai persembahan kepada dewa. Warga yang ingin ikut serta dalam tradisi ini berjongkok dilantai sambil menunggu pendeta kuil menghampiri lalu memecahkan batok kelapa di kepala mereka. Beberapa warga terlihat kesakitan, namun ada juga yang langsung mengumpulkan pecahan batok kelapa sebagai persembahan kepada dewa. Ada seorang wanita menceritakan bahwa dirinya tidak merasakan apa-apa saat ia mengikuti tradisi ini, dia percaya bahwa dewi telah menyelamatkannya dan menghilangkan rasa sakitnya.

Sejarah ritual berawal ketika pendudukan Inggris di India, saat itu Inggris mencoba membuat jalur kereta api melintasi daerah Tamil Nadu, Namun warga menolak rencana Inggris tersebut. Karena penolakan tersebut Inggris mengajukan syarat kepada warga, jika warga bisa memecahkan batu atau batok kelapa menggunakan kepala maka jalur kereta akan dirubah. Sejak saat itu setiap tahunnya hingga sekarang ritual ini dilakukan dan berhasil menarik ribuan pengunjung.

3. Tradisi Gotmar Mela India

Tradisi Gotmar Mela India

Masih di negara India, sejak 300 tahun lalu, dua desa Distrik Ahmednagar, Maharashtra, India, yaitu Pandhurna dan Sawargaon memang selalu bertikai. Letak kedua desa berada di tepi Sungai Jaam. Entah apa awal mulanya, desa tersebut seakan tidak pernah rukun. Oleh karena bentrok antar keduanya, sudah ratusan orang luka-luka dan bahkan ada juga yang meninggal dunia. Akan tetapi, perang itu saat ini sudah tidak ada. Kedua desa telah bersepakat untuk damai. Suasana mencekam telah berganti menjadi sebuah festival untuk mengenang tragedi berdarah tersebut, namanya Gotmar Mela.

Tradisi Gotmar Mela berlangsung di hari kedua Bhadrapad, bulan baru yang biasanya jatuh pada tanggal 23 Agustus hingga 22 September. Masyarakat Pandhurna dan Sawargaon berkumpul di tepi sungai dan mempersenjatai diri mereka dengan batu yang dipersiapkan untuk kegiatan saling lempar batu. Masing-masing desa menjadi satu kelompok. Keduanya memperebutkan bendera yang sebelumnya diikatkan di atas pohon. Masing-masing kelompok harus mengatur strategi agar bisa mendapatkan bendera tersebut. Ini memang tidak mudah, selain letak bendera yang ada di atas pohon, setiap orang yang akan naik akan selalu diganggu oleh anggota kelompok lain. Tentu saja, melempar batu adalah satu-satunya cara agar lawan tidak bisa mengambil bendera.

Karena sangat berbahaya pemerintah setempat telah melarang kegiatan ini berlangsung, tapi masyarakat Pandhurna dan Sawargao tetap saja melanjutkan tradisi mereka. Untuk mengurangi korban, pada tahun 2001 diusulkan batu yang digunakan akan diganti menjadi bola karet, tapi hal tersebut tidak didengarkan oleh kedua desa ini.

4. Tradisi Perang Rocket Chios Yunani

Tradisi Perang Rocket Chios Yunani

Tradisi ini terdengar sedikit modern karena menggunakan kembang api sebagai bahannya. Setiap tahun pada hari Paskah, dua gereja di sebuah pulau kecil bernama Chios, Yunani, menggelar perang kembang api. Kedua gereja itu saling menembakkan ribuan kembang api ke satu sama lain. Dua gereja ortodoks (Saint Mark dan Panagia Erithiani) di kota Vrodandos berusaha memukul lonceng gereja satu sama lain dengan menembakkan kembang api. Warga Vrodandos membutuhkan beberapa bulan untuk mempersiapkan tradisi unik tersebut. Sekitar 150 orang terlibat dalam pembuatan lebih dari 25.000 kembang api tersebut. Tidak semua warga menyukai tradisi berbahaya ini. Kegiatan itu telah menyebabkan beberapa kasus kebakaran dan juga kasus kematian.

Sejumlah warga sudah mulai menyuarakan keprihatinan mereka dan berusaha untuk mendorong dihentikannya tradisi tersebut. Kekhawatiran ini tampaknya tidak terlalu mengganggu mereka yang menyukainya. Pada hari Paskah kemarin, tradisi ini tetap dilaksanakan dan puluhan ribu roket ditembakkan ke udara. Ribuan orang tampak menikmati tradisi itu sembari melihat warna langit yang berkelap-kelip karena efek cahaya kembang api.

Sejarah tradisi ini berawal pada abad ke-19, ketika pulau Chios diduduki oleh Ottoman. Saat itu, orang pribumi di pulau ini memiliki kapal yang dilengkapi dengan meriam untuk melawan bajak laut. Namun, rupanya para warga juga suka menembakkan meriam mereka saat merayakan Paskah. Ketika penjajah Ottoman datang ke pulau itu, mereka menyita meriam warga untuk mencegah pemberontakan. Sebagai gantinya, para warga beralih menembakkan kembang api. Dan tradisi ini tidak pernah berhenti sejak saat itu.

5. Tradisi Onbashira Jepang

Tradisi Onbashira Jepang

Selama 1200 tahun terakhir festival Onbashira di Nagano wilayah Jepang telah secara tradisional dirayakan tanpa terputus. Kata Onbashira harfiah diterjemahkan sebagai ” pilar suci” , melambangkan pembaharuan Suwa Grand Shrine . Ini terdiri dari dua tahap : Yamadashi diterjemahkan sebagai ” keluar dari pegunungan ” yang diselenggarakan pada bulan April seperti untuk Satobiki diadakan pada bulan Mei. Sebelum festival dimulai , 16 batang pohon dipotong dari 200 tahun pohon cemara Jepang. Setiap pohon bisa sampai 1 meter di seberang , 16 meter dan berat sampai 12 ton . Tim pria mempertaruhkan hidup mereka dengan memanjat pada batang dan naik sepanjang jalan menuruni lereng berlumpur , dibutuhkan 3 hari untuk memindahkan batang lebih dari 10 kilometer ke kuil . Batang pohon besar yang beratnya sekitar 7 ton, diluncurkan menuruni lereng dengan sudut kemiringan 40 derajat. Saat batang pohon meluncur, para pria pemberani melompat dan duduk di atasnya. Karena kecepatannya cukup tinggi, beberapa orang terlempar atau tergilas. Di antara mereka ada yang tewas atau cedera karena tertimpa pohon yang sangat berat.

Sumber referensi:

http://www.kaskus.co.id/thread/58058896582b2e9e528b4567/kaskus.co.id/?utm_source=facebook&utm_medium=internalpost&utm_campaign=hotthread

Wednesday, 12 October 2016

Negara Yang Pernah Memberlakukan Tradisi Duel Dalam Menyelesaikan Masalah

Dahulu di beberapa negara pernah menerapkan tradisi Duel untuk menyelesaikan masalah. Ketika suatu masalah tidak dapat ditemukan titik terangnya atau ada pihak yang dirugikan dari hasil keputusan musyawarah, biasanya mereka memilih duel sebagai solusinya.

Negara Yang Pernah Memberlakukan Tradisi Duel Dalam Menyelesaikan Masalah

Jika diperhatikan cara ini sangatlah mengerikan dan bahkan memakan korban. Namun tradisi duel ini pernah diterapkan dibeberapa negara hingga akhirnya di berhentikan. Berikut dibawah ini adalah beberapa negara yang pernah menerapkan tradisi duel.

Yunani

Pada abad 19 di Yunani pernah ada tradisi duel menurut catatan sejarah. Duel tersebut merupakan sebuah solusi untuk menyelesaikan masalah dari dua orang yang terlibat. Uniknya duel ini tidak saling membunuh melainkan hanya melukai wajah. Mereka menggunakan sebuah pisau dan di awasi oleh semacam hakim.

Hakim bertugas memutuskan siapa yang menang dan kalah. Siapa yang pertama melukai wajah lawannya akan dianggap sebagai pemenang. Dan pemenang duel akan dengan serta merta menyerahkan dirinya ke pihak berwenang ketika selesai bertarung.

Koboi Amerika

Amerika terkenal dengan koboinya, namun ternyata ada cerita menarik tentang koboi. Salah satunya adalah mengenai duel ala koboi. Duel ala koboi bukan saling hajar atau menggunakan pisau, namun koboi menggunakan pisto untuk berduet.

Hasil duet ini pasti selalu akan memakan korban meninggal dunia. Duel ini bertahan lama karena mulai dilakukan sekitar abad 18 hingga awal 20an. Namun karena berbahaya, duel ini akhirnya dilarang.

Filipina

Di Filipina duel bukan hanya sebagai solusi dari masalah, tetapi juga menjadi festival tahunan. Duel di Filipina dilakukan dengan cara memakai senjata, mulai dari kayu, rotan, sampai belati-belati tajam. Duel berakhir ketika ada salah satu yang sudah tidak berdaya lagi. Tapi, kadang diberlakukan aturan duel sampai mati di mana pertarungan akan terus lanjut sampai salah satunya tewas.

Afrika

Hampi sama dengan di Filipina duel di Afrika bukan hanya untuk menyelesaikan masalah, tapi juga mencakup berbagai tujuan, bahkan bersenang-senang. Dan yang unik, duel untuk keperluan senang-senang itu masih ada sampai sekarang. Di afrika banyak terdapat tradisi duel dan salah satu yang paling terkenal adalah Nguni.

Duel Nguni dilakukan antara dua orang dengan menggunakan senjata yang berupa tongkat dan disaksikan oleh wasit. Duel berakhir ketika salah satu orang sudah tak kuat untuk berdiri atau pingsan.

Indonesia

Di Indonesia juga terdapa tradisi duel, salah satunya adalah Carok, duel khas Madura. Carok merupakan tradisi suku Madura untuk menyelesaikan masalah. Dan masih diberlakukan sekarang. Rata-rata duel ini selalu melahirkan korban-korban.

Carok dilakukan karena beberapa sebab seperti hutang piutang, difitnah, dan sebagainya. Tapi faktor wanita merupakan penyebab utama Carok dilakukan. Bisa karena selingkuh atau mungkin diganggu rumah tangganya.

Itulah beberapa duel yang pernah dilakukan oleh beberapa negara untuk menyelesaikan masalah. Sebaiknya cara ini segera ditinggalkan karena dalam duel nggak ada yang benar atau salah, tetapi siapa yang kuat dan lemah.

Sumber referensi:

http://bangka.tribunnews.com/2016/10/09/melongok-tradisi-duel-mematikan-yang-ada-di-dunia-paling-mengerikan-duel-carok-madura?page=5